Bagi sebagian pria, onani pernah dilakukan setiap waktu. Apalagi bagi laki-laki yang sudah melewati masa pubertas bahkan sampai usia dewasa, namun belum memiliki pasangan padahal keinginan ngeseks sudah mencapai puncak. Satu tujuan onani yaitu mencapai ejakulasi.

       Sebagian pakar kesehatan dan pakar seks mengatakan bahwa onani tidak berbahaya. Onani dianggap sebagai salah satu jalan melepaskan ketegangan akibat keinginan berhubungan seks yang menggebu-gebu namun tidak jalan untuk menyalurkannya. Namun demikian, onani menggunakan pelumas sabun memiliki dampak negatif.

            Ketika sabun digunakan sebagai pelumas saat onani dikamar mandi, maka kulit pada Mr.P bisa saja mengalami luka. Apalagi sabun bersifat basa, dan kulit Mr.P yang tipis bersifat asam. Salah satu fungsi dari sifat asam pada kulit adalah untuk melindungi kulit. Sedangkan ketika sabun yang mengandung busa digosokkan pada kulit Mr.P maka sifat asam tersebut bisa terkikis jika digosok berulang-ulang. Selain itu PH kulit juga berubah yang pada akhirnya kulit Mr.P rentan terinfeksi.

          Keasaman pada kulit Mr.P adalah 4-6, hinga 5, meskipun setiap orang memiliki tingkat keasaman yang berbeda. Ph Kulit sebagian juga dipengaruhi oleh umur. Apalagi kulit laki-laki sebagian besar bersifat asam.

Beberapa faktor yang mempengaruhi Ph pada kulit Mr.P

        Ada beberapa penyakit yang berpengaruh pada PH Mr.P seperti dermatitis, xerosis, eczema dan lamellar ichthyosis. Selain itu jenis penyakit seperti gagal ginjal, cerebrovaskuler dan diabetes juga berpengaruh. Disisi lain PH pada Mr.P juga dipengaruhi faktor eksternal seperti deterjan pada sabun dan iritan topikal.

Pengaruh sifat asam terhadap kulit Mr.P

         Produk deterjan yang sering berpengaruh pada Mr.P adalah deterjen yaitu sabun mandi. Sabun membuat kulit ber PH basa. Sabun cenderung berdampak pada kulit dengan jalan yaitu gangguan flora bakterial dan pH, irititasi dan kelembaban.

          Pada setiap kulit ada beberapa struktur kulit asam yang melindungi kulit dari jamur dan infeksi bakteri. Kulit yang terdapat mantel asam ad kandungan asam laktat dan berbagai asam amino yang berasal dari keringat, sebum pada asam lemak, asam amino dan asam karboksilik pyrolidine dari proses kornifikasi kulit.

      Sabun yang banyak dipakai orang untuk mandi memiliki Ph 7 hingga 9,2 sehingga bisa mempengaruhi Ph pada kulit. Sabun yang sifatnya semakin netral atau alkali sabun maka mebuat kulit semakin alkali sehingga mengundang pertumbuhan propionibacterium. Jumlah bakteri tersebut signifikan ketika kulit pada PH kulit 14. Untuk itu, ketika sabun dengan PH tinggi digunakan sebagai pelumas onani maka bisa menimbulkan iritasi. Sehingga kulit pada Mr.P perlu dijaga dari pengaruh deterjen sabun tersebut.

        Sabun yang digunakan untuk mandi adalah untuk kelembaban kulit. Namun, emulsi pada sabun dengan komponen nilai Ph 7,5 berefek untuk mengeringkan kulit dibanding emulsi dengan ph 4,5. Jadi, sabun yang ber pH tinggi bisa mengundang bakteria jenis propionibacterium dan juga membuat kulit bisa kering. Jika sabun tersebut digunakan sebagai pelumas saat onani tentu dalam jangka panjang bisa berbahaya bagi Mr.P.

         Selain membuat kulit pada Mr.P kering pasca memanfaatkan sabun sebagai pelumas, dampak lain dari onani adalah terjadinya oligospermia yaitu jumlah sperma dalam air mani lebih rendah yaitu kurang dari 20 juta. Dan terjadinya azoospermia dimana air mani tidak terdapat sperma sama sekali.

           Untuk itu, perlu pertimbangan untuk menggunakan sabun sebagai pelumas saat onani agar tidak membahayakan Mr.P jangka panjang.